Jumat, 01 Maret 2013

semantik "jenis makna"



KATA PENGANTAR
                        Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah Swt.Yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan sehingga  penulis bisa menyelesaikan proposal ini yang berjudul “Jenis Makna”. Sesuai dengan waktu yang ditentukan.
                        Proposal ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas yang bersifat individual dan untuk menambah pengetahuan pembaca. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Roziah., S.pd MA.Selaku dosen pembimbing  mata kuliah Semantik dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah  ini.
                        Mudah-mudahan makalah  ini dapat bermanfaat dan membantu dalam mempelajari tentang jenis makna. Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam penyusunan makalah ini, namun jika masih terdapat kesalahan, penulis mengharapkan kritik dan saran.

Pekanbaru, 1 Maret 2013


Penulis,           





BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
                  Dalam pemakaian sehari-hari, kata makna digunakan dalam berbagai bidang maupun konteks pemakaian apakah pengertian khusus kata makna tersebut serta perbedaannya dangan ide misalnya, tidak begitu diperhatikan. sebab itu sudah wajarnya bila makna disejejerkan dengan arti, gagasan, konsep, pernyatan, pesan, informasi, maksud, firasat, isi dan fikiran. Berbagai pengertian itu disejajarkan begitu saja karna keberadaannya memang tidak pernah dikenali secara cermat, dan dipilahkan secara tepat.(Drs. Aminuddin M.pd,2011: 15).
                  Dari sekian banyak pengertian yang diberikan itu, hanya arti yang paling dekat pengertiannya dengan makna. Meskipun demikian, bukan berarti keduanya sinonim mutlak. Disebut demikian karna arti adalah kata yang telah mencakup makna dan pengertian (cf, Kridalaksana, 1982:15).
                  Dalamberbagai kepustakaan linguistic, semantic disebutkan sebagai bidang studi linguistik, yang objek penelitiannya adalah makna bahasa.. Bahasa digunakan untuk berbagai keperluan dan kegiatan dalam kehiduan masyarakat, maka makna bahasa itu un menjadi bermacam-macam pula bila dilihat dari segi pandang yang berbeda (Haznah faizah, 2008:69).
                  Makna ialah arti, maksud pembicaraan atau penulis pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan (KBBI, 2008:864). Makna dapat pula di tinjau dari pendekatan analitik atau referensial, yakni pendekatan yang mencari esensi makna dengan cara menguraikannya atas unsure-unsur utama.    
1.2  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah yang berisi tentang “Jenis Makna” adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Semantik, dan untuk mengetahui tentang apa saja jenis makna.
1.3  Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini yang pertama adalah untuk menambah pengetahuan pembaca terhadap jenis makna yang ada. Yang kedua memberi  pengetahuan kepada pembaca tentang apa saja jenis makna menurut para ahli..
BAB II PEMBAHASAN
                  Dari berbagai sumber kita dapati berbagai istilah untk menamanakan  jenis atau tipe makna. Pateda (1968), misalnya , secara alfatbetis telah mendaftarkan adaya dua puluh lima jenis makna yaitu makna afektif, makna denotative, makna deskriptif, makna ekstensi, makna emotif, makna gereflekter, makna ideasional, makna intense, makna gramatikal, makna kiasan, makna kognitif makna kolokasi, makna konotatf, makna konseptual, makna konstruksi, makna leksikal, makna luas, makna piktonal, makna proposisional, makna pusat, makna referensial, makna sempit makna stilistika, dan makna tematis.ada istilah yang berbeda untuk maksud yang sam atau hampir sama, tetapi ada pula istilah yang sama untuk maksud yang berbeda-beda. Sedangkan Leech (1876) yang karyanya banyak dikutip oleh daam studi semantic membedakan adanya 7 tipe makna, yaitu (1) makna konsetual, (2) makna konotatif, (3) makna stilistika, (4) makna afektif, () makna reflektif, (6) makna kolokatif, dan (7) makna tematik. Dengan catatan makna konotatif, stilistika, afektif, reflektif, dan kolokatif masuk dalam kelompok yang lebih besar yaitu makna asosiatif (A.chaer,2009:59).
                  Sesungguhnya jenis atau tipe makna itu memang dapat dibedakan berdasarkan beberapa criteria dan sudut pandang. Berdasarkan jenis semantiknya dapat dibedakan antara makna leksikal dan makna gramatikal, berdasarkan ada tidaknya referen pada sebuah kata/leksem dapat dibedakan adanya makna refenrensial da makna non referensial, berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata/ leksem dapat dibedakan adanya makna denotative dan makna konotatif, berdasarkan ketepatan maknanya dikenal adanya makna kata kata dan istilah atau makna umum dan makna khusus. Lalu berdaasarka criteria lain atau sudut pandang lain dapat disebutkan adanya makna-makna asosiatif, kolokatif, reflektif, idiomatic dan sebagainya.
1.      Makna leksikal dan makna gramatikal, dan kontekstual
                  Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun. Misalnya leksem air bermakna leksikal “sejenis barang cair yang digunakan untuk keperluan sehari-hari”. Dengan kata lain makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, yang sesua dengan hasil observasi indra manusia, atau makna apa adanya (makna yang ada dalam kamus).
                  Makna gramatikal akan ada jika terjadi gramatikal (afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi). Misalnya, dalam proses afiksasi sepatu melahirkan makna gramatikal “mengenakan atau memakai sepatu”.
                  Makna kontekstual adalah makna kata pergi dalam “adik pergi ke sekolah”. Makna konteks juga berkenan dengan situasinya yakni tempat, waktu dan lingkungan pengguna bahasa.
(Haznah faizah, 2008:70)
2.      Makna referensial dan noreferensial
                  Perbedaan makna referensial dan makna nonreferensial berdasarkan ada tidaknya referen dari kata-kata itu. Bila kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang dibaca oleh kata tersebut disebut kata bermakna referensial. Kalau kata-kata itu tidak mempunyai referen maka kata itu dsebut kata bermakna nonreferensial. Kata meja dan kursitermasuk kata yaitusejenis perabot rumah tangga yang disebut “meja” dan “kursi” sebaliknya kata karea dan tetapi tidak mempunyai referen. Jdi kata karena dan kata tetapi termasuk kata yang bermakna nonreferensial.
                  Disini perlu dicatat adanya kata-kata yang referennya tidak tetap. Dapat berpindah dari satu rujukan kepada rujukn lain, atau juga dapat berubah ukurannya. Kata-kata yang seperti ini disebut kata-kata deiksis. Misalna kata ganti aku dan kamu  (Abdul Chaer, 2009:63-65)
3.      Makna Denotatif, Konotatif  dan Emotif
Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotatif adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan (bandingkanlah dengann makna konotatif  dan emotif). makna kognitif adalah makna lugas, makna apa adanya, makna kognitif digunakan dalam istilah teknik. Makna kognitif dengan sebutan bermaca-macam antara lain deskriptif , denotative, dan kognitif konsepsional. makna ini tidak pernah dihubungkan dengan hal-hal secara asosiatif, maka tanpa tafsiran hubungan dengan benda lain atau perisstiwa lain. Makna kognitif adalah makna sebenarnya, bukan makna kiasan atau perumpamaan (Fatimah djajasudarma,11). Umpama kata perempuan dan wanita kedua kata itu mempunyai dua makna yang sama, yaitu ’manusia dewasa bukan laki-laki’.
Sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai ”nilai rasa”, baik positif maupun negatif. Jika tidak memiliki nilai rasa maka dikatakan tidak memiliki konotasi. Tetapi dapat juga disebut berkonotasi netral. Makna konotatif dapat juga berubah dari waktu ke waktu. Misalnya kata ceramah dulu kata ini berkonotasi negatif karena berarti ’cerewet’, tetapi sekarang konotasinya positif. (Abdul Chaer,2009:65).
makna konotatif yang dibedakan dari makna emotif Karena yang disebut pertama bersifat negative dan yang kemudian bersifat positif. makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau apa yang didengar. makna konotatif dan makna emotif dapat dibedakan berdasarkan masyarakat yang menciptakan atau menurut individu yang menciptakannya atau yang menghasilkannya, dan dapat dibedakan berdasarkan media yang digunakan (lisan atau tulisan) serta menurut bidang yang menjadi isinya. makna emotif (bahasa inggris emotive meaning) adalah makna yang melibatkan perasaan (pembicara dan pendengar, penulis dan pembaca) yang kearah positif.
Makna kognitif dibedakan dari makna konotatif dan makna emotif berdasarkan hubungannya, yakni hubungan antara kata dengan acuannya (referen) atau hubungan kata dengan denotasinya, (hubungan antara kata [ungkapan]dengan orang, tempat, sifat, proses dan kefiatan di luar bahasa [denotata kata] dan hubungan antara kata [ungkapan] dengan cirri-ciri tertentu di sebut konotasi kata[ungkapan]dan sifat emotif kata [ungkapan]). (Fatimah djajasudarma,2009:12).
4.      Makna Kata dan Makna Istilah
Pengunaan makna kata akan terjadi jelas jika kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Kita belum tau makna kata pergi sebelum kata itu berada dalam konteksnya (adik pergi kesekolah). Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa makna kata masih bersifat umum, kasar dan tidak jelas
Istilah mempunyai mkna yang pasti, yang jelas dan yang meragukan meskipun tanpa ada konteks kalimat oleh sebab itu, makna istilah bebas konteks. Sebuah istilah digunakan dalam bidang keilmuan atau kegiata tertentu misalnya kata tangan dan lengan. Dalam bidang kedokteran kedua kata ini memppunyai makna yang berbeda. Tangan bermkna bagian dari pergelangan sampai ke jari tangan, sedangkan lengan adalah bagin dari pergelangan sampai ke bahu. (Hasnah faizah, 2008: 72)
5.      Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Leach (1976) mengemukakan bahwa makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks asosiasi apapun misalnya kata rumah memiliki makna konseptual “ bangunan tempat tinggal mnusia” pada dasarnya makna konseptual sama dengan maknaleksial, makna denotative, dan makn referensial.
Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah  leksem atau kata berkenaan dengan danya hubungan kata itu dengan sesuatu yang ada di luar bahasa. Misalnya kata melatih berasosiasi dengan sesuatu yang suci atu kesucian.  Makna asosiasi sebenarnya sama dengan lambing atau perlambangan yang di gunakan oleh masyarakat bahasa untuk menyatakan konsep lain, yang mempunyai kemiripan dengan sifat, keadaan atau cirri yang ada pada konsep asal atau leksem tersebut. Oleh leach(1976) makna asosiatif iini mencakup makna konotatif, makna stilistika, dan makna efektif dan makna kolotatif. (Haznah faizah, 2008:71)
6.      Makna Idiomatikal dan Peribahasa
Makna idiomatik adalah makna leksikal berbentuk dari beberapa kata. kata-kata yang disusun dengan kombinasi kata lain dapat pula menghasilklan makna yang berlainan. Sebagai idiom bentuk beku (tidak berubah), artinya kombinasi kata-kata dalam idiom dalam bentuk tetap, bentuk tersebut tidak dapat di ubah berdasarkan kaidah sintaksis yang berlaku bagi suatu bahasa.
Berbeda dengan idiom, peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya ”asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa. Umpamanya peribahasa Seperti anjing dengan kucing yang bermakna ’dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah akur’. Makna ini memiliki asosiasi, bahwa binatang yang namanya anjing dan kucing jika bersua memang selalu berkelahi, tidak pernah damai.(Abdul chaer,2009:74)
7.      Makna Kias
Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan istilah arti kiasan digunakan sebagai oposisi dari arti sebenarnya. Oleh karena itu, semua bentuk bahasa (baik kata, frase, atau kalimat) yang tidak merujuk pada arti sebenarnya (arti leksikal, arti konseptual, atau arti denotatif) disebut mempunyai arti kiasan. Jadi, bentuk-bentuk seperti puteri malam dalam arti ’bulan’, raja siang dalam arti ’matahari’.(Abdul chaer,2009:77)
 
8.      Makna lokusi, ilokusi, dan perlokusi
                  Dalam kajian tindak turur (spek act) dikenal adanya ilokasi, makna ilokusi, dan makna perlokusi. Yang dimaksud dengan makna lokuasi adalah makna yang seperti dinyatakan dalam ujaran, makna harfiah, atau makna apa adanya, sedangkan yang dimaksud dengan makna ilokusi adalah makna seperti yang dipahami oleh pendengar. Sebaliknya yang dimaksud dengan makna perlokusi adalah makna seperti yang diinginkan oleh penutur. Misalnya, kalau seseorangkepada tukang afdruk foto dipinggir jalan bertanya.
 “bang, tiga kali empat, berapa?”
                  Makna secara lokusi kalimat tersebut adalah keinginantahu dari si penutur tentang berapa tiga kali empat. Namun, makna perlikusi, makna yang diinginkan si penutur adalah bahwa si penutur ingin tahu berapa baya mencetak foto ukuran tiga kali emat cm.kalau si pendengar yaitu si akdok foto itu memiliki makna ilokusi yang sama dengan makna perlokusi dari si penyanya, tentu ia akan menjawab, “dua ribu” , atau “tiga ribu”. Tetapi kalau makna ilokusinya sama dengan makna lokusi dari ujaran “tiga kali empat berapa” . dia asti akan menjawab “dua belas”, bukan jawaban yang lain. (Abdul chaer,2009:78).
9.      Makna Sempit
Makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran. makna yang asalnya lebih luas dapat menyempit, karena dibatasi. Bloomfield mengemukakan adanya makna sempit (narroeed meaning, specialized meaning) dan makna luas (widened meaning, extended meaning) didalam perubahan makna ujar. 
 Perubahan makna suatu bentuk ujaran secara semantic berhubungan, tetapi ada juga yang menduga bahwa perrubahan terjadi dan seolah-olah bentuk ujaran hanya menjadi objek yang relative permanen, dan makna hanya menempel seperti satelit yang berubah-ubah.
Makna luas dapat menyempit, atau satu kata yang asalnya memiliki makna luas (generic) dapat menjadi memiliki makna sempit (spesifik). kata-kata bermakna luas didalam bahasa Indonesia disebut juga makna umum (generik) digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum.  (Fatimah djajasudarma, 2009:8)
10.  Makna Luas
            Kakna luas (widened meaning atau extended meaning didalam bahasa inggris) adalah makna yang terkandung didalam sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan.
Kata-kata yang memiliki makna luas digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum, sedangkan makna sempit adalah kata-kataa yang bermakna khusus atau kata-kata yang bermakna luas dengan unsur pembatas. kata yang bermakna sempit digunakan untuk menyatakan seluk beluk atau rincian gagasan (ide) yang bersifat umum. (Fatimah djajasudarma, 2009:10)
11.  Makna Referensial
 Makna referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataa n atau referen (acuan), makna referensial disebut juga makna kognitif, karena memililki acuan. makna ini memiliki hubungan dengan konsep, sama halnya seperti makna kognitif.makna reerensial memiliki hubungan dengan konsep tentang sesuatu yang telah disepakati bersama  (oleh masyarakat bahasa), seperti terlihat di dalam hubungan antara konsep dan acuan.
Hubungan yang terjalin antara sebuah bentuk kata dengan barang, hal, atau kegiatan (peristiwa) di luar bahasa tidak bersifat langsung, ada media yang terletak diantaranya. Kata merupakan lambing (symbol) yang menghubungkan konsep dengan acuan. (Fatimah djajasudarma, 2009:14)
12.  Makna Konstruksi
Makna konstruksi (bahasa inggris construction meaning ) adalah makna yang terdapat dalam konstruksi misalnya, makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata didalam bahasa Indonesia. Di samping itu makna milik yang diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukkan kepunyaan. (Fatimah djajasudarma, 2009:15)
13.  Makna Idesional
Makna idesional (bahasa inggris ideational meaning) adalah makna yang muncul sebagai akibat pengaruh kata yang berkonsep. kata yang dapat dicari konsepnya atau ide yang terkandung didalam satu kata-kata , baik bentuk dasar maupun turunan.
Kata demokrasi kita lihat di dalam kamus, dan kita perhatikan pula dengan hubungannya dengan unsure lain dalam pemakaian kata tersebut, lalu kita tentukan konsep yang menjadi ide kata tersebut. Demikian juga kata partisipasi mengandung kata idesional  “ aktivitas maksimal seseorang yang ikut serta di dalam suatu kegiatan . dengan makna idesional yang terkandung di dalamnya kita dapat melihat pham yang terkandung di dalam makna suatu kata. (Fatimah djajasudarma, 2009:18)
14.  Makna Proposisi
Makna proposisi (bahasa inggris propotional meaning) adalah makna yang muncul bila kita membatasi pengertian tentang sesuatu. kata-kata dengan makna proposisi kita dapatkan dibidang matematika atau bidang ekstra. makna proposisi mengandung pula saran, hal, rencana, yang dapat difahami melalui konteks.
Dibidang eksakia kita kenal apa yang di sebut sudut siku-siku makna proposisinya adalah Sembilan puluh derajat. Makna preposisi dapat ditetapkan pula ke dalam sesuatu yang pasti, tidak mungkin dapat di ubah lagi. (Fatimah djajasudarma, 2009:18)
15.  Makna Pusat
Makna pusat (bahasa inggris central meaning) adalah makna yang dimiliki setiap kata yang menjadi inti ujaran. setiap ujaran (klausa , kalimat, wacana) memiliki makna yang menjadi pusat inti pembicaraan.makna pusat disebut juga makna tak berciri. Makna pusat dapat hadir pada konteksnya atau tidak hadir pada konteks. (Fatimah djajasudarma, 2009:19)
16.  Makna Pictorial
Makna piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca. misalnya pada situsi makan kita berbicara tentang suatu yang menjijikkan dan menimmbulkan perasaan jijik bagi sipendengar, sehingga ia menghentikan kegiatan (aktivitas) makan.
Perasaan muncul segera setelah mendengar atau membaca suatu ekspresi yang menjijikan, atau perasaan benci. Perasaan dapat pula berupa perasaan gembira di samping perasaan yang di sebutkan di atas. (Fatimah djajasudarma, 2009: 20)
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
                  Jenis makna yang terdapat dalam semantic begitu banyak, maka penulis membahas berdasarkan buku-buku sebagai referensinya. Terdapat enam belas jenis makna yang dapat penulis simpulkan. Yaitu makna leksikal dan gramatikal, makna referensial dan nonreferensial, makna denotative makna konotatif dan emotif, makna kata dan istilah, makna konseptual dan asosiatif, makna idiomatical dan peribahasa, makna kias, makna lokusi ilokusi dan perlokusi, makna sempit, makna luas, makna referensial, makna konstruksi, makna idesional, makna proposisi, makna pusat,dan makna pictorial..

3.2 Saran
            Penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya, namun apabila masih terdapat kekurangan dalam penulisan maupun isi dari makalah yang kami susun. Penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Dan saran penulis untuk pembaca adalah agar selalu mempelajari karya sastra serta berusaha untuk menghasilkan suatu karya yang bermanfaat.
           








DAFTAR PUSTAKA

Chaer Abdul,2009.Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta:Rineka Cipta
Djajasudarma Fatimah,2009. Semantik 2.Bandung:Rineka Aditama
Faizah Haznah,2008.Linguistik Umum.Pekanbaru:Cendikia Insani
Aminuddin,2011.Semantik Pengantar Studi Tentang Makna.Bandung:Sinar Baru Algensindo
                  Affset
Departemen Pendidikan Nasional,2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta:Gramedia
                  Pustaka Utama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar